Monday, January 14, 2013

Kata mereka:Kita Nasionalis



Suatu hari saya naik kereta menuju Berlin dari sebuah kota kecil bernama Nordhausen selama 4 jam. Hari ini adalah tanggal 31 Desember dan jelas saja, kereta penuh sesak oleh penumpang yang ingin merayakan pergantian tahun. Kereta dipenuhi oleh manusia yang bermacam macam, dari anak muda yang terus tertawa sepanjang jalan, sampai pegawai keuangan yang sibuk membuka chart saham DAX dan memantau perkembangan nilai tukar Euro terhadap Dollar. Sementara saya duduk bersama 3 orang lain yang sama sekali tak kenal. Saya berpikir mereka pasti orang orang berada, terlihat dari jam tangan eksklusif buatan Swiss di pergelangan tangan mereka. Tiba tiba terlintas pikiran di kepala saya , mengapa penduduk Jerman makmur secara finansial ? mengapa rumah rumah di sini bagus bagus, jalanan tak berlubang, dan kereta api selalu datang tepat waktu ? Mengapa tak pernah ada demo menuntut perbaikan kualitas pendidikan, menuntut kenaikan upah dan perbaikan birokrasi pemerintahan ? Mengapa di sini ada  sistem kesehatan yang mumpuni sampai sistem pensiun yang menjamin semua penduduk, jalan tol yang lebar dan tanpa kerusakan, makanan yang terjamin kualitasnya, air yang langsung bisa diminum, atau beribu ribu jaringan gas pemanas ruangan yang ada di setiap rumah penduduk ? Mengapa penduduk sini bahkan tetap kaya raya meski setiap hari mereka membelanjakan uang untuk menenggak minuman yang merugikan ? (Menurut statistik, penduduk Jerman menenggak 125 liter bir per orang per tahun).


Kereta turun, udara  minus 4 derajat langsung menerpa wajah. Salju yang sangat dingin berjatuhan dan ini sangat tidak nyaman untuk berjalan terus terusan di suhu yang seperti ini . 4 musim yang dimiliki negara ini sangat tidak menguntungkan pemenuhan kebutuhan dasar mereka: Pangan. Petani petani jerman hanya bisa menanam kentang, jagung dan gandum saat musim panas. Jelas tidak ekonomis kalau hanya dikelola selama 3 bulan saja dalam setahun. Bandingkan dengan petani Indonesia yang tanahnya subur kehitaman dan mampu menanam bermacam macam jenis tanaman tak kenal waktu sepanjang tahun. Kita bisa menanam padi dua kali dan jagung dalam satu tahun. Tetapi, di sini pemerintah Jerman pun  bertindak cerdik. Petani dibiarkan mengelola lahan puluhan hektar, jadi memungkinan seorang petani bisa saja memiliki 90 hektar kentang dan 50 hektar jagung bersamaan. Petani pun juga memiliki akses kredit permodalan dengan cicilan rendah untuk membeli traktor, mesin penanam, mesin panen, dan gudang penyimpanan sekaligus. Mereka mampu menyimpan hasil panen mereka, menjaga nilai jual panen pertanian agar tidak jatuh. Pupuk disediakan tanpa pernah  ada berita kelangkaan pupuk. (Selama saya di sini tak pernah membaca atau mendengar berita kelangkaan pupuk). Petani memiliki permodalan sendiri untuk membangun sistem irigasi yang efisien dan modern. Pertanian dibuat seefisien mungkin dengan sistem monokultur dan mekanisasi modern. Hasilnya, petani petani di jerman rata rata memiliki rumah dan mobil terbaru di rumah mereka.Nilai tukar petani sangat tinggi di sini. Tahun 2010 pertanian Jerman menghasilkan angka 46,06 milyar Euro, 10 persen dari total produksi pertanian Eropa. Bandingkan dengan petani di indonesia yang rata rata memiliki lahan garapan dibawah 1 hektar dan tak memiliki akses permodalan yang mencukupi untuk membeli mesin dan akses ke benih, pupuk dan produk perawatan tanaman lainnya, serta tak mengetahui kondisi pasar dan dipermainkan tengkulak saat panen menjelang.



Oke , cukup dengan petani petani kaya di negeri ini. Hari ini saya berencana mengunjungi Brandenb├╝rgertor yang sangat terkenal itu. Setelah melihat lihat simbol keruntuhan temok Berlin dan reunifikasi Jerman dekade 90 an lalu, saya memikirkan sesuatu tentang negeri ini. Negeri ini seakan baru saja dibangun setelah terpecah belah selama puluhan tahun. Negeri ini baru saja menggalakkan pembangunan  20 tahun yang lalu, saat reunifikasi Jerman barat dan Jerman timur berhasil dilakukan setelah demo yang berlangsung tak kenal waktu. Rasa rasanya, negeri ini baru saja digerakkan sendi sendi perekonomiannya beberapa hari yang lalu.  Baru beberapa tahun yang lalu, setelah puluhan kota di negeri ini babak belur di hancurkan oleh bom bom berdaya rusak tinggi yang dijatuhkan sekutu. Rasa rasanya baru beberapa tahun yang lalu, negeri ini kesulitan keuangan dan membutuhkan uluran Marshall Plann untuk membangun industri mereka. Dan lihat lah hasil dan kondisinya saat ini. Ekspor Jerman tetap menjadi yang nomor satu untuk kawasan Uni Eropa. Jerman, bersama Inggris dan Perancis menjadi pemain kunci untuk kestabilan zona Euro dan Uni Eropa pada umumnya. Kekuatan ekonomi Jerman, tak terbantahkan untuk kawasan Eropa. Dalam krisis Yunani dan Krisis utang Irlandia yang hampir merobohkan Uni Eropa, Jerman tampil sebagai pahlawan dengan kucuran Euro dari pabrik pabrik mereka yan tersebar di  seluruh tanah negeri ini. Kekuatan aset Allianz AG, bahkan melebihi APBN Indonesia yang masih dibawah 2000 Trilyun. Allianz memiliki aset sebanyak 2800 trilyun. Itu hanya Allianz, itu belum termasuk VW Grup, Mercedes Benz, BMW, BASF, Bayer, Deutsche Bank, Deutsche Post dengan DHL nya, Continental, DaimlerChrysler dan masih banyak lagi. Kalau saja kita melihat barang barang yang kita beli tiap hari, rasanya kita akan menyadari bahwa pasti ada produk dari perusahaan perusahaan Jerman yang kita beli tiap hari. Tak usah membahas rencana pemerintah membeli 100 tank Leopard asal Jerman, atau berseliwerannya Audi, Porsche  dan BMW terbaru di jalanan kota kota di negara kita. Tiap hari pun tanpa kita sadari kita  mematikan obat nyamuk bakar Baygon buatan Bayer AG, memberi makan anak kecil kita dengan sarapan Oetker Oatmeal dari DR. August Oetker AG, memberangkatkan anak kita dengan bus sekolah buatan Mercedes Benz, atau membelikan anak kita sirup obat batuk anak buatan Boehringer Ingerheim. Tetangga kita yang sedang memperbaiki pagar rumahnya pun memesan semen Holcim, produk dari HeidelbergCement. Saat kita pergi ke salah satu pasar swalayan modern di kota terdekat, tanpa sadar kita menggunakan lift dan ekskalator buatan Bosch atau ThyssenKrupp. Para suami tanpa sadar membeli bor tangan buatan Schneider Electronic atau Makita, dan membeli jersey bola untuk nonton bareng piala dunia bermerk Adidas. Di lain cerita, pemerintah pun menggalakkan penggunaan serbuk abate pembasmi nyamuk di genangan air buatan BASF dan membangun gedung gedung pencakar langit dengan crane dan truk material buatan MAN, dan kita hanya setuju setuju saja. Bagaimana mereka tak kaya raya ?



Tak usah berkata tentang nasionalisme dan cinta produk dalam negeri, saat kita pun hanya diam mengetahui buruh pekerja Adidas di Tangerang atau di Bekasi tak mendapatkan upah yang layak. Tak perlu berkoar koar tentang kemajuan perekonomian dan kesejahteraan sosial, saat etos kerja dan keefektifan kerja kita masih dibawah pekerja pekerja Jerman. Jelas pekerja Jerman mendapatkan upah yang lebih tinggi, dengan cara mereka bekerja yang selalu tepat waktu dan zero tolerance terhadap kesalahan. Pekerja pekerja jerman diciptakan menjadi pekerja tangguh sejak jaman perang dunia ke 2, sejak jaman mereka diburu buru mencari solusi menciptakan jalur distribusi yang paling efisien, menciptakan sistem industri hulu sampai hilir yang terintegrasi dan efektif dan itu semua menghasilkan produk produk kelas satu yang tetap terjangkau. Saat pengusaha tekstil di Jawa Barat kesulitan akan pasokan listrik dan bahan baku, HeidelbergCement mencoba memperluas lahan produksi kaolin mereka di Jawa Timur, dan Mercedes Benz berencana membangun pabrik perakitan mobil mereka di Cikarang. Saat PT Dirgantara Indonesia kesulitan permodalan dan PT Pindad kesulitan memasarkan prduknya, pemerintah menjajaki kerjasama untuk membeli sistem navigasi dan radar militer dengan Siemens AG dengan skema Goverment to Goverment.  Saat rumah tangga di Jalarta kesulitan mendapatkan pasokan air bersih yang kontinu, Jerman berencana membangun pengolahan Air di tepian Rhein dan mencoba memasok lebih banyak air siap minum di rumah rumah penduduknya.



Nasionalisme ? apakah sistem kapitalisme Industri Jerman masih memiliki kaitan erat dengan Nasionalisme ? Kalau kita saksikan bersama, mobil mobil buatan Jerman tetap memenuhi jalanan kota kota di jerman, meskipun serbuan mobil buatan Jepang, Korea ataupun China yang berhasil membuatnya lebih murah mulai masuk ke negara ini. Rakyat negeri ini tetap mencintai Audi A5 mereka atau VW Golf mereka dibandingkan Ford Focus atau Toyota Yaris yang lebih ekonomis. Adidas tetap merajai pasar apparel negeri ini. Brand produk luar negeri sangat sulit bersaing di negara ini. Sangat sulit. Marilah kita hitung berapa jumlah mobil buatan Jepang di Jakarta, dan saya pastikan anda akan kesulitan sendiri menghitungnya. Atau munculnya pusat pusat retail baru dari Jepang dan Korea Selatan, dan berbagai perusahaan tambang yang menawarkan imbal tinggi untuk dapat mengeruk tanah tanah penuh logam di negara kita. Kita lebih nasionalis ? tunggu dulu. Apakah kita lebih suka menabung di OCBC NISP, UOB Buana, BII Maybank, Bank Haga, BTPN, DBS Danamon, atau kita lebih suka menabung di BRI dan BNI 46? pertanyaan mudah bukan ?



Sementara pelajar pelajar kita masih suka bermimpi dibuai serbuan drama Korea, pemerintah Jerman menyediakan sistem pendidikan yang terjangkau dan fleksibel untuk mahasiswanya. Universitas dilengkapi dengan prasarana yang mengikuti perkembangan jaman, dan dana riset yang melimpah. Pengajar pengajar sekolah dasar di jerman harus berkualifikasi khusus dan disediakan banyak tenaga konsultasi yang membantu pelajar dan para mahasiswa. Tiap tahun kebutuhan akan tenaga Insinyur dan peneliti di Jerman selalu meningkat, dan itu semua berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang tetap meningkat dan terjaga dengan baik. Pertumbuhan ekonomi yang terjaga berbanding lurus denga perkebangan rakyat yang mudah meraih informasi, mudah mendapatkan fasilitas kesehatan, hukum dana pendidikan. Rakyat Jerman terlindungi dengan baik kemanapun mereka pergi.



Saat elit politik sedang gaduh gaduhnya menghadapi 2014, saat pelajar tak juga berhenti tawuran, saat  remaja Indonesia tak berhenti membakar tembakau dan mengenal dunia penuh obat obatan, saat ilmuwan indonesia mengeluhkan gaji dan pendapatan yang tak sebanding, saat oknum oknum penegak hukum menawarkan diri untuk disuap dan memacung hukum yang ia jaga dengan sendirinya, saat itu pula perusahaan perusahaan negeri ini sudah berinovasi lebih jauh untuk dapat menjangkau dan mengakuisisi sumber daya negeri kita. Bukan salah mereka, ini murni salah kita. !

















2 comments:

  1. wow, kesana kemari terus ya, hahaha,
    saya juga pengin bisa kayak gitu, kapaaaaan giliran saya blusukan kesana, huehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. :) Thanks mbaK harla Sudah berkunjung ke blog saya :)

      Delete