Wednesday, May 30, 2012

Perempuan penghuni delta tepi lautan

Aku masih ingat seikat bunga Raps kuning yang kau, Perempuan penghuni delta tepi lautan, hadiahkan padaku
Meski warnanya tak kusuka, tetap saja ku bawa berlarian mengejarmu di tengah rintik hujan
Aku ikatkan dengan pita baru warna biru, warna kesukaanmu
Ku dekap sepanjang malam, berharap akan bersinar seperti titik kuning di tengah warna merah yang kau puja berkali kali dan ceritakan tentangnya dan aku bosan; tak kau acuhkan

Aku masih ingat saat saat dirimu, Perempuan penghuni delta tepi lautan, melukis kapal yang kau idamkan kan menyeberangi lautan menuju  pinggiran melaka, menuju pulau tepi harapan
Kecil, buruk, menurutku bahkan tak kan bisa menembus ombak laut China Selatan, lalu kau patahkan dengan ceritamu tentang Cao dan Lang, tentang ksatria Khubilai Khan,  tentang biksu biksumu yang mengajarkan perdamaian dalam tulisan; 
Dan aku mulai bosan, tapi kutatap nanar, lalu kau berhenti, dan kita saling bersemu  mengelakkan pandangan


Aku masih ingat saat kau, Perempuan penghuni delta tepi lautan, memintaku menuliskan 748 kalimat di buku harian yang kau buat dan pajang kalimat kesukaanku di dalamnya
ku tolak, kupilih menulis kalimat yang ingin ku katakan,
kali ini kau terdiam,


Giessen, den 30.Mai 2012



















3 comments: