Tuesday, September 4, 2012
Kemana Angin Pergi Membawa Kecemasan ( M. Fadjroel Rahman )
Kemanakah angin pergi membawa kecemasan ?
apakah ia sempat menitipkan kecemasan pada daun jatuh ?
mengendap endap tanpa suara namun terdengar bisiknya oleh angin
selamat tinggal
aku tak ingin kembali
walau musim semi meledakkan jutaan bunga
dalam bahasa apakah kecemasan dilukis angin pada sayap kupu kupu ?
di ujung coretan warna pelangi
kupu kupu berbisik pada angin
"Aku melayang dari benua ke benua
tetapi lautan merindukan kematianku
bagaimana dengan hujan ?" bisik angin
bukankah hujan mencipta benua
menitipkan sel tunggal di samudra
tiga setengah milyar tahun kemudian menjelma manusia
pasti,
kecemasan milik hujan
simpul angin letih terbungkuk bungkuk
jangan,
jangan kembalikan padaku
kecemasan itu rumah abadi waktu
cukuplah aku menarikan tarian purba ini saja
sebelum sirna di kegelapan semesta
sebelum sirna di jasad senja
angin kemudian kembali membawa kecemasan
Catatan : M. Fadjroel Rahman adalah aktifis penggiat reformasi, Hak Azasi Manusia dan aktif mengisi debat dan seminar tentang penegakan hukum di indonesia. Pendiri pedomannews.com. Esai esai nya banyak di muat di harian nasional seperti kompas, republika atau media indonesia.
Monday, September 3, 2012
Before Sunset : Quotes, Story, Love,
What if you had a second chance with the one that got away?
Before Sunset. Film besutan Richard Linklater tahun 2004 produksi Warner Independent Pictures berhasil menghancurkan anggapan saya, bahwa film romantis itu ngga harus aneh aneh. Film ini juga yang berhasil membuat saya kepengen banget beli tiket ICE Frankfurt - Paris :D ( yang di Mainz, atau Saarbrucken bisa ikut kok )
Pemeran utama film ini, Ethan Hawke dan Julie Delpy, berhasil dengan sukses membuat sebuah dialog yang berbobot penuh makna, yang menjadi kekuatan utama film ini. Saya pribadi ingin memiliki dialog seberkualitas dan berbobot seperti skrip Before Sunset, tentu dengan latar di tempat seindah Paris.
Film ini adalah film lanjutan dari Before Sunrise yang dirilis tahun 1995. Dikisahkan Jesse dan Celine pertemu di Austria lalu kemudian berpisah. Film ini merupakan pertemuan antara Jesse dan Celine setelah lama berpisah. Jesse bahkan menulis novel (dalam film ini) karena dia berkeyakinan bahwa dengan menulis novel dan menerbitkannya, dia bisa bertemu dengan Celine suatu hari dan akhirnya terjadilah pertemuan itu. (ehm, romantis sih ). Jesse bertemu dengan Celine saat ia sedang mengenalkan novelnya ( terinspirasi oleh pertemuan singkatnya dengan Celine ) di Paris dan bertemu di toko buku ( lagi lagi tempat favorit saya )
Sepanjang film, viewers akan disuguhi oleh obrolan mereka yang seolah tak berhenti. Dan hebatnya, mengalir tanpa kaku. Dialog diantara mereka berdua inilah yang menjadi inti dari menariknya film ini. Film drama romantis tak harus melulu tentang itu itu saja. Tapi obrolan juga bisa ( di tambah latar yang wah juga sih. ) Meskipun dialog dialognya menarik dan penuh isi, kalau misalkan pengambilan gambar di lakukan di sungai Ciliwung, pasti beda pemaknaan. ( bukan kampanye halus )
Buat penulis sendiri, film tentang jatuh cinta itu pasti ada sisi menariknya, hehe. Meskipun dalam film ini dikisahkan kalau Jesse sudah punya keluarga dan punya anak, tetap saja, selalu ada kisah yang tersisa dan tak bisa dilupakan (selalu seperti ini, wie immer)
1.
- Celine: So, I want to try something.
- Jesse: What?
- Celine: [hugs him] I want to see if you stay together or if you dissolve into molecules.
- Jesse: How'm I doing?
- Celine: Still here.
4.
Celine: Baby, you are gonna miss that plane.
Tafakur :September
Tafakur katamu. Sudah berlalu bersama terbangnya kolibri kembali ke hutan maple nan semi. Sekarang saatnya kita menjejak masa depan yang penuh misteri. Sudah selesai ? belum. Mari kita bicarakan belenggu belenggu yang mengikat kaki kita hingga tak bisa dipisah dengan mudah. Putuskan, atau kita akan tertinggal kapal terakhir menuju dermaga impian.
Tafakur katamu. Masih kuingat dan akan selalu kuingat hingga senja, hingga cerita ini berakhir tanpa kesan begitu saja. Aku masih berdoa tiap september akan menjadi bulan paling indah dalam setahun. Apakah doa kita masih sama ? Apakah kau masih menengadahkan tanganmu dengan tinggi yang sama ?
Tafakur katamu. Kita punya kisah yang sama, tapi dengan pemeran yang berbeda. Punyaku tak berhenti di setiap stasiun kereta api lalu menangis tersedu. Punyamu tak suka memetik cattleya atau menebar biji teratai di halaman rumah.
Tafakur katamu. Aku sudah menghitung detik menjadi tahun dan menjumlahkannya menjadi penanggalan kisah, ada namaku di dalamnya. Teratai sudah gugur dan hanyut terbawa arus sungai. Entah kapan akan tumbuh dan mekar lagi.
Tafakur katamu. Apakah masih ada yang tersisa hingga tak bisa dihabiskan lalu terlupakan ?. Mata mata sipit senja dan tangan tangan kekar tak henti hentinya mengejar dan mengarahkan kita ke tempat yang sama. Aku sudah berlari, tapi nafasku sudah habis dan tak bisa bergerak kemana mana lagi.
Tafakur katamu. Jejak kakiku masih nampak. Cat tembok rumah masih sama dengan warna kesukaan kita. Aku masih ingin menyelesaikannya. Kuwarnai dengan warna kesukaanmu, atau kusudahi dnegan warna kesukaanku. Pelangi akan segera muncul. Sudah saatnya aku bergegas dan menunggu hujan turun seperti dahulu, lagi.
Tafakur katamu. Akan aku selesaikan, sesuai permintaanmu.
Giessen, den 3. September 2012
Tafakur katamu. Masih kuingat dan akan selalu kuingat hingga senja, hingga cerita ini berakhir tanpa kesan begitu saja. Aku masih berdoa tiap september akan menjadi bulan paling indah dalam setahun. Apakah doa kita masih sama ? Apakah kau masih menengadahkan tanganmu dengan tinggi yang sama ?
Tafakur katamu. Kita punya kisah yang sama, tapi dengan pemeran yang berbeda. Punyaku tak berhenti di setiap stasiun kereta api lalu menangis tersedu. Punyamu tak suka memetik cattleya atau menebar biji teratai di halaman rumah.
Tafakur katamu. Aku sudah menghitung detik menjadi tahun dan menjumlahkannya menjadi penanggalan kisah, ada namaku di dalamnya. Teratai sudah gugur dan hanyut terbawa arus sungai. Entah kapan akan tumbuh dan mekar lagi.
Tafakur katamu. Apakah masih ada yang tersisa hingga tak bisa dihabiskan lalu terlupakan ?. Mata mata sipit senja dan tangan tangan kekar tak henti hentinya mengejar dan mengarahkan kita ke tempat yang sama. Aku sudah berlari, tapi nafasku sudah habis dan tak bisa bergerak kemana mana lagi.
Tafakur katamu. Jejak kakiku masih nampak. Cat tembok rumah masih sama dengan warna kesukaan kita. Aku masih ingin menyelesaikannya. Kuwarnai dengan warna kesukaanmu, atau kusudahi dnegan warna kesukaanku. Pelangi akan segera muncul. Sudah saatnya aku bergegas dan menunggu hujan turun seperti dahulu, lagi.
Tafakur katamu. Akan aku selesaikan, sesuai permintaanmu.
Giessen, den 3. September 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
