Showing posts with label MyOwnPerspective. Show all posts
Showing posts with label MyOwnPerspective. Show all posts

Monday, January 14, 2013

Kata mereka:Kita Nasionalis



Suatu hari saya naik kereta menuju Berlin dari sebuah kota kecil bernama Nordhausen selama 4 jam. Hari ini adalah tanggal 31 Desember dan jelas saja, kereta penuh sesak oleh penumpang yang ingin merayakan pergantian tahun. Kereta dipenuhi oleh manusia yang bermacam macam, dari anak muda yang terus tertawa sepanjang jalan, sampai pegawai keuangan yang sibuk membuka chart saham DAX dan memantau perkembangan nilai tukar Euro terhadap Dollar. Sementara saya duduk bersama 3 orang lain yang sama sekali tak kenal. Saya berpikir mereka pasti orang orang berada, terlihat dari jam tangan eksklusif buatan Swiss di pergelangan tangan mereka. Tiba tiba terlintas pikiran di kepala saya , mengapa penduduk Jerman makmur secara finansial ? mengapa rumah rumah di sini bagus bagus, jalanan tak berlubang, dan kereta api selalu datang tepat waktu ? Mengapa tak pernah ada demo menuntut perbaikan kualitas pendidikan, menuntut kenaikan upah dan perbaikan birokrasi pemerintahan ? Mengapa di sini ada  sistem kesehatan yang mumpuni sampai sistem pensiun yang menjamin semua penduduk, jalan tol yang lebar dan tanpa kerusakan, makanan yang terjamin kualitasnya, air yang langsung bisa diminum, atau beribu ribu jaringan gas pemanas ruangan yang ada di setiap rumah penduduk ? Mengapa penduduk sini bahkan tetap kaya raya meski setiap hari mereka membelanjakan uang untuk menenggak minuman yang merugikan ? (Menurut statistik, penduduk Jerman menenggak 125 liter bir per orang per tahun).


Kereta turun, udara  minus 4 derajat langsung menerpa wajah. Salju yang sangat dingin berjatuhan dan ini sangat tidak nyaman untuk berjalan terus terusan di suhu yang seperti ini . 4 musim yang dimiliki negara ini sangat tidak menguntungkan pemenuhan kebutuhan dasar mereka: Pangan. Petani petani jerman hanya bisa menanam kentang, jagung dan gandum saat musim panas. Jelas tidak ekonomis kalau hanya dikelola selama 3 bulan saja dalam setahun. Bandingkan dengan petani Indonesia yang tanahnya subur kehitaman dan mampu menanam bermacam macam jenis tanaman tak kenal waktu sepanjang tahun. Kita bisa menanam padi dua kali dan jagung dalam satu tahun. Tetapi, di sini pemerintah Jerman pun  bertindak cerdik. Petani dibiarkan mengelola lahan puluhan hektar, jadi memungkinan seorang petani bisa saja memiliki 90 hektar kentang dan 50 hektar jagung bersamaan. Petani pun juga memiliki akses kredit permodalan dengan cicilan rendah untuk membeli traktor, mesin penanam, mesin panen, dan gudang penyimpanan sekaligus. Mereka mampu menyimpan hasil panen mereka, menjaga nilai jual panen pertanian agar tidak jatuh. Pupuk disediakan tanpa pernah  ada berita kelangkaan pupuk. (Selama saya di sini tak pernah membaca atau mendengar berita kelangkaan pupuk). Petani memiliki permodalan sendiri untuk membangun sistem irigasi yang efisien dan modern. Pertanian dibuat seefisien mungkin dengan sistem monokultur dan mekanisasi modern. Hasilnya, petani petani di jerman rata rata memiliki rumah dan mobil terbaru di rumah mereka.Nilai tukar petani sangat tinggi di sini. Tahun 2010 pertanian Jerman menghasilkan angka 46,06 milyar Euro, 10 persen dari total produksi pertanian Eropa. Bandingkan dengan petani di indonesia yang rata rata memiliki lahan garapan dibawah 1 hektar dan tak memiliki akses permodalan yang mencukupi untuk membeli mesin dan akses ke benih, pupuk dan produk perawatan tanaman lainnya, serta tak mengetahui kondisi pasar dan dipermainkan tengkulak saat panen menjelang.



Oke , cukup dengan petani petani kaya di negeri ini. Hari ini saya berencana mengunjungi Brandenbürgertor yang sangat terkenal itu. Setelah melihat lihat simbol keruntuhan temok Berlin dan reunifikasi Jerman dekade 90 an lalu, saya memikirkan sesuatu tentang negeri ini. Negeri ini seakan baru saja dibangun setelah terpecah belah selama puluhan tahun. Negeri ini baru saja menggalakkan pembangunan  20 tahun yang lalu, saat reunifikasi Jerman barat dan Jerman timur berhasil dilakukan setelah demo yang berlangsung tak kenal waktu. Rasa rasanya, negeri ini baru saja digerakkan sendi sendi perekonomiannya beberapa hari yang lalu.  Baru beberapa tahun yang lalu, setelah puluhan kota di negeri ini babak belur di hancurkan oleh bom bom berdaya rusak tinggi yang dijatuhkan sekutu. Rasa rasanya baru beberapa tahun yang lalu, negeri ini kesulitan keuangan dan membutuhkan uluran Marshall Plann untuk membangun industri mereka. Dan lihat lah hasil dan kondisinya saat ini. Ekspor Jerman tetap menjadi yang nomor satu untuk kawasan Uni Eropa. Jerman, bersama Inggris dan Perancis menjadi pemain kunci untuk kestabilan zona Euro dan Uni Eropa pada umumnya. Kekuatan ekonomi Jerman, tak terbantahkan untuk kawasan Eropa. Dalam krisis Yunani dan Krisis utang Irlandia yang hampir merobohkan Uni Eropa, Jerman tampil sebagai pahlawan dengan kucuran Euro dari pabrik pabrik mereka yan tersebar di  seluruh tanah negeri ini. Kekuatan aset Allianz AG, bahkan melebihi APBN Indonesia yang masih dibawah 2000 Trilyun. Allianz memiliki aset sebanyak 2800 trilyun. Itu hanya Allianz, itu belum termasuk VW Grup, Mercedes Benz, BMW, BASF, Bayer, Deutsche Bank, Deutsche Post dengan DHL nya, Continental, DaimlerChrysler dan masih banyak lagi. Kalau saja kita melihat barang barang yang kita beli tiap hari, rasanya kita akan menyadari bahwa pasti ada produk dari perusahaan perusahaan Jerman yang kita beli tiap hari. Tak usah membahas rencana pemerintah membeli 100 tank Leopard asal Jerman, atau berseliwerannya Audi, Porsche  dan BMW terbaru di jalanan kota kota di negara kita. Tiap hari pun tanpa kita sadari kita  mematikan obat nyamuk bakar Baygon buatan Bayer AG, memberi makan anak kecil kita dengan sarapan Oetker Oatmeal dari DR. August Oetker AG, memberangkatkan anak kita dengan bus sekolah buatan Mercedes Benz, atau membelikan anak kita sirup obat batuk anak buatan Boehringer Ingerheim. Tetangga kita yang sedang memperbaiki pagar rumahnya pun memesan semen Holcim, produk dari HeidelbergCement. Saat kita pergi ke salah satu pasar swalayan modern di kota terdekat, tanpa sadar kita menggunakan lift dan ekskalator buatan Bosch atau ThyssenKrupp. Para suami tanpa sadar membeli bor tangan buatan Schneider Electronic atau Makita, dan membeli jersey bola untuk nonton bareng piala dunia bermerk Adidas. Di lain cerita, pemerintah pun menggalakkan penggunaan serbuk abate pembasmi nyamuk di genangan air buatan BASF dan membangun gedung gedung pencakar langit dengan crane dan truk material buatan MAN, dan kita hanya setuju setuju saja. Bagaimana mereka tak kaya raya ?



Tak usah berkata tentang nasionalisme dan cinta produk dalam negeri, saat kita pun hanya diam mengetahui buruh pekerja Adidas di Tangerang atau di Bekasi tak mendapatkan upah yang layak. Tak perlu berkoar koar tentang kemajuan perekonomian dan kesejahteraan sosial, saat etos kerja dan keefektifan kerja kita masih dibawah pekerja pekerja Jerman. Jelas pekerja Jerman mendapatkan upah yang lebih tinggi, dengan cara mereka bekerja yang selalu tepat waktu dan zero tolerance terhadap kesalahan. Pekerja pekerja jerman diciptakan menjadi pekerja tangguh sejak jaman perang dunia ke 2, sejak jaman mereka diburu buru mencari solusi menciptakan jalur distribusi yang paling efisien, menciptakan sistem industri hulu sampai hilir yang terintegrasi dan efektif dan itu semua menghasilkan produk produk kelas satu yang tetap terjangkau. Saat pengusaha tekstil di Jawa Barat kesulitan akan pasokan listrik dan bahan baku, HeidelbergCement mencoba memperluas lahan produksi kaolin mereka di Jawa Timur, dan Mercedes Benz berencana membangun pabrik perakitan mobil mereka di Cikarang. Saat PT Dirgantara Indonesia kesulitan permodalan dan PT Pindad kesulitan memasarkan prduknya, pemerintah menjajaki kerjasama untuk membeli sistem navigasi dan radar militer dengan Siemens AG dengan skema Goverment to Goverment.  Saat rumah tangga di Jalarta kesulitan mendapatkan pasokan air bersih yang kontinu, Jerman berencana membangun pengolahan Air di tepian Rhein dan mencoba memasok lebih banyak air siap minum di rumah rumah penduduknya.



Nasionalisme ? apakah sistem kapitalisme Industri Jerman masih memiliki kaitan erat dengan Nasionalisme ? Kalau kita saksikan bersama, mobil mobil buatan Jerman tetap memenuhi jalanan kota kota di jerman, meskipun serbuan mobil buatan Jepang, Korea ataupun China yang berhasil membuatnya lebih murah mulai masuk ke negara ini. Rakyat negeri ini tetap mencintai Audi A5 mereka atau VW Golf mereka dibandingkan Ford Focus atau Toyota Yaris yang lebih ekonomis. Adidas tetap merajai pasar apparel negeri ini. Brand produk luar negeri sangat sulit bersaing di negara ini. Sangat sulit. Marilah kita hitung berapa jumlah mobil buatan Jepang di Jakarta, dan saya pastikan anda akan kesulitan sendiri menghitungnya. Atau munculnya pusat pusat retail baru dari Jepang dan Korea Selatan, dan berbagai perusahaan tambang yang menawarkan imbal tinggi untuk dapat mengeruk tanah tanah penuh logam di negara kita. Kita lebih nasionalis ? tunggu dulu. Apakah kita lebih suka menabung di OCBC NISP, UOB Buana, BII Maybank, Bank Haga, BTPN, DBS Danamon, atau kita lebih suka menabung di BRI dan BNI 46? pertanyaan mudah bukan ?



Sementara pelajar pelajar kita masih suka bermimpi dibuai serbuan drama Korea, pemerintah Jerman menyediakan sistem pendidikan yang terjangkau dan fleksibel untuk mahasiswanya. Universitas dilengkapi dengan prasarana yang mengikuti perkembangan jaman, dan dana riset yang melimpah. Pengajar pengajar sekolah dasar di jerman harus berkualifikasi khusus dan disediakan banyak tenaga konsultasi yang membantu pelajar dan para mahasiswa. Tiap tahun kebutuhan akan tenaga Insinyur dan peneliti di Jerman selalu meningkat, dan itu semua berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang tetap meningkat dan terjaga dengan baik. Pertumbuhan ekonomi yang terjaga berbanding lurus denga perkebangan rakyat yang mudah meraih informasi, mudah mendapatkan fasilitas kesehatan, hukum dana pendidikan. Rakyat Jerman terlindungi dengan baik kemanapun mereka pergi.



Saat elit politik sedang gaduh gaduhnya menghadapi 2014, saat pelajar tak juga berhenti tawuran, saat  remaja Indonesia tak berhenti membakar tembakau dan mengenal dunia penuh obat obatan, saat ilmuwan indonesia mengeluhkan gaji dan pendapatan yang tak sebanding, saat oknum oknum penegak hukum menawarkan diri untuk disuap dan memacung hukum yang ia jaga dengan sendirinya, saat itu pula perusahaan perusahaan negeri ini sudah berinovasi lebih jauh untuk dapat menjangkau dan mengakuisisi sumber daya negeri kita. Bukan salah mereka, ini murni salah kita. !

















Saturday, September 22, 2012

#Suarapublik dan Joko Widodo - Basuki Tjahja Purnama



"Suara rakyat adalah suara Tuhan," kata kata spanduk dan ocehan para politisi kala jagoannya menang dalam pemilihan umum. Suara publik begitu sangat bisa menjungkalkan para pemimpin hanya dalam hitungan bulan, minggu, hari bahkan jam!! menarik, agar politisi belajar bagaimana mengelola suara publik menjadi dukungan untuk melakukan yang terbaik (atas nama rakyat).

Masih ingat bagaimana runtuhnya Kekuasaan Ben Ali di Tunisia, atau rontoknya sendi sendi pemerintahan Hosni Mubarak yang sudah bertahan puluhan tahun, disokong kekuatan Amerika Serikat, Israel dan petinggi petinggi Eropa rontok oleh suara publik yang bosan dengan keadaan mereka yang tak mengalami perubahan berarti. Mubarak didemo puluhan ribu orang yang dikomandoi sms dan jejaring sosial, yang tanpa ragu sampai mendirikan tenda tenda untuk menjungkalkan Mubarak. Tak sedikit yang meninggal diterjang peluru tentara. Tap tekad mereka terlalu kuat. Mereka butuh suasana baru yang menjamin kehidupan mereka makin baik serta kebebasan mereka tidak dikekang kekang lagi. Suara publik. Itulah jawabannya.

Berkembangnya jejaring sosial pun turut mendukung kuatnya suara publik dan mudahnya pendapat disampaikan. suara publik pun dimanfaatkan, diolah sedemikian rupa menjadi komoditas yang seksi dan instant untuk menyuarakan isi hati rakyat, dari yang paling sepele sampai yang melibatkan jajaran petinggi negara. Media pun ikut ikutan membuai suara publik hingga suara publik makin tak bisa dibatasi. Muncullah tokoh tokoh baru yang terjadi karena suara publik. Contoh gampangnya, Prita Mulyasari yang diposisikan sebagai "korban" dan melawan hegemoni Rumah Sakit bertitel Internasional yang besar dan terkenal. Prita diharuskan membayar ganti rugi sebesar 230 juta rupiah. Uang itu tentu jumlah yang  besar bagi Prita. Apa yang dilakukan publik ? tak henti hentinya kritikan terhadap pengadilan kasus Prita muncul dan berkembang menjadi Gerakan "Help!Prita" yang mengumpulkan koin dan akan dibayarkan sebagai uang denda untuk Prita. Media ? media berkali kali memberitakan kasus Prita dan mengundang banyak perhatian pemerhati hukum. SuaraPublik pun membesar. Tak bisa dibatasi sampai akhirnya Mahkamah Agung menvonis bebas Prita Mulyasari. Selesai ? belum. Saat Presiden "keseleo lidah" menyebutkan bahwa gaji Presiden tak pernah naik ( dalam pidato di depan jajaran TNI), suara publik pun muncul kembali. Sayang, bukan simpati dan perhatian yang muncul, tapi cacian dan sindiran yang keluar dari status, forum, dan kicauan masyarakat. Suara publik pun bergolak. Gerakan "HELP! President's Salary" seolah membungkam pernyatan "keseleo lidah' Presiden. Malu tentunya presiden dianggap kekurangan gaji. Suara publik muncul menjadi wakil rakyat untuk >> mempermalukan presiden.

Dalam pilkada jakarta tahun 2012 ini pun, suara publik menjadi pemain penting yang turut membantu suksesnya pasangan baru dan tidak biasa, Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, yang notabene orang baru, bukan petinggi partai, bukan pengusaha kaya raya, dan bukan orang betawi. Apalagi Ahok, yang kristen, bukan birokrat tinggi, chinese (bayangkan masih ada perasaan berbeda saat mendengar kata 'cina') dan bukan orang betawi pula, bisa mengalahkan pasangan incumbent, Gubernur Fauzi Bowo, beserta wakilnya, Nachrowi Ramli yang merupakan ketua Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, mantan jenderal, dan ketua DPD 1 Partai Demokrat, sang pemenang pemilu di DKI jakarta tahun 2009. Pasangan petahana ini memiliki semuanya, apapun yang dibutuhkan untuk memenangkan pilkada secara langsung di indonesia. Ada  dukungan partai partai besar semacam PKS, PPP, Golkar, PD, Hanura, dan sebagian partai partai kecil lainnya. Foke memiliki mesin politik dan pengerahan birokrat yang handal. Lihat bagaimana mudahnya spanduk Foke beterbaran di setiap sekolah di DKI Jakarta.  Foke lebih dikenal dan diketahui oleh warga jakarta, karena sudah menjabat sebagai Sekda, wakil gubernur, bahkan gubernur. Nachrowi Ramli, ketua DPD 1 Partai Demokrat yang simpatisannya ratusan ribu di jakarta. Di putaran pertam pun, pasangan ini memiliki dana kampanye "tercatat" sebanyak 62 milyar, terbanyak dibandingkan dengan  calon calon lainnya.

Kekuatan tak terbatas ini justru terjungkal oleh suara publik yang menginginkan perubahan, dan Jokowi-Ahok mampu meraih suara publik dan menjawab keinginan akan "perubahan" tersebut dengan cepat. Jokowi menangkap kerinduan publik akan sosok yang ramah, apa adanya, dekat dengan rakyat, dan sabar. Jokowi tidak menampilkan sosok orang yang harus dibatasi oleh protokoler dan harus menjaga wibawa.Alih alih berebutan menampilan spanduk, poster dan baliho di penjuru kota, jokowi malah blusukan dari kampung ke kampung, menjajakan program nya dan menyapa rakyat. Simple, tapi hal ini tak bisa ditiru dan dilakukan oleh lainnya. Alih alih membagi bagikan kaos bergambar dirinya dan pasangannya berikut nomor di kaos atau baju seperti kontestan pilkada di indonesia pada umumnya, jokowi malah memperkenalkan kemeja kotak kotak yang dengan sukses menuai suara publik. Kemeja kotak kotak pun laris manis. dijajakan dari toko, internet, bahkan di jalannan.

Gaya kampaye ini dianggap unik, terkesan kreatif dan bersih. Saat lawannya mengkritik latar belakang Jokowi dan Ahok, yang nyeleneh dan seakan menyalahi hukum pilkada, Jokowi malah mengkritik kinerja dan program yang ditawarkan lawannya. Jokowi berhasil. Media cetak dan elektronik pun berebutan menampilkan tiap detail yang ia kerjakan, di lain pihak menampilkan kesalahan dan kegagalan lawannya. Suara media pun bermunculan di forum, media online, jejaring sosial dan kehidupan nyata. Salahkan Jokowi ? salah besar. Anda harus menyalahkan media yang begitu mencintai sosoknya. Strategi marketing Jokowi meraih suara publik pun dengan sukses menjungkalkan Fauzi Bowo. Dahsyat kan ?? :D

Di lain pihak, suara publik yang begitu besar bisa menjadi blunder. Ingat kisah Darsem, TKW yang dijatuhi hukuman namun digagalkan karena diyat nya dibayarkan oleh suara publik dari berbagai elemen. Setelah bebas, ada berita berita miring tentangnya dan menjadi bahan hinaan di media. Suara publik pun menghakimi, Darsem dikucilkan. Padahal seharusnya ini menjadi PR pemerintah untuk penyediaan lapangan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi warganya. Suara publik yang tak terkelola bisa dimanfaatkan pihak pihak tertentu dengan cara pengalihan isu. Kenaikan BBM tahun kurun tahun 2007 - 2008 bisa tertutupi dengan sempurna oleh hujatan berhari hari terhadap FPI atas penyerangan terhadap AKKBB, FPI tak bisa meraih suara publik, sejak dari situ muncullah suara suara sinis terhadap apapun, tidak hanya yang positif, yang dilakukan oleh FPI, maka dianggap dan dicaci maki di media manapun.

Kembali ke kasus pilkada DKI. Saat debat publikyang ditayangkan oleh MetroTV, sempat Nara menyapa Ahok dengan sapaan Haiya Ahok, yang dianggap disengaja dilakukan untuk menegaskan kepada audiens bahwa Ahok adalah etnis China, yang berujung hujatan di berbagai media dan jejaring sosial. Isu SARA menjadi jualan utama Foke-Nara. Foke dan Nara yang sama sama beragam islam dan sama sama orang betawi menjual diri mereka dengan latar belakang tersebut.Di berbagai kesempatan pun, Foke yang tak biasa biasanya mengikuti acara keagamaan menjadi rajin dan berkali kali di berbagai kesempatan mengatakan pentingnya memilih pemimpin yang seiman. Iklan Foke pun menampilkan shalawat Nabi. Sayang, banyak omongan bernada sinis terhadap Foke. Foke dianggap menggunakan agama untuk kepentingan individu. Foke gagal dikandang sendiri meraih suara dari publiknya sendiri. Miris.

Kecerobohan Nara bercanda Haiya Haiya menerima buah pahitnya. Di twitter bahkan muncul tagar #DKI1 yang berisi pelecehan terhadap Nara. Nara pun sukses dikuliti oleh suara publik. Jokowi-Ahok yang mulanya ketar ketir suaranya menurun karena dengung pemimpin harus seiman dan makin jelasnya kalimat anti betawi pun bisa meraih kembali suara publik. Tim internal Jokowi Ahok pun mengakui hal ini. Ahok pun berhasil menahan diri untuk tidak menanggapi secara emosional "candaan" Nara dan lagi lagi mampu menampilkan citra "sabar" untuk lagi lagi meraih suara publik. Dimana mana ada akun yang menuliskan status menghina pasangan Jokowi Ahok, disitulah bermunculan suara suara publik yang akan menghakimi tanpa ampun si pemilik akun. Dari penguasaan terhadap suara publik inilah, awal dari 53% suara Jokowi Ahok untuk memenangkan Pemilihan Kepala Daerah 2012 DKI Jakarta.

Dengan kemenangan (versi quick count ) berbagai lembaga survei, bisa dipastikan bahwa Jokowi dan Ahok akan menjadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tidak hanya penduduk Jakarta saja yang bersuka ria, penduduk di luar daerah pun sama. Euforia kemenangan Jokowi dianggap dan dicatat berbagai partai politik menjadi bahan untuk bagaimana cara memenangkan suara rakyat di tahun 2014. Berbagai partai menyikapi hal ini secara serius, dan lonceng awal kematian partai yang tidak pernah memperjuangkan aspirasi rakyat. Berbagai partai semula berlawanan pun tiba tiba berwajah manis. Hal ini wajar dan biasa di dunia politik. Tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi.

Selamat untuk Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama. Suara Publik menunggu aksi anda. !!.









Tuesday, September 11, 2012

Antitesa Dunia Masa Kini










..Nevermind i’ll find someone like you
i wish nothing but the best for you too..


Sepenggal lirik lagu di atas adalah pemenang penghargaan bergengsi Grammy Awards 2012. Kekuatan liriknya menurut para kritikus lagu sungguh menyentuh. Perpaduan antara suara indah sang penyanyi dan lirik yang begitu dalam dan mengena.  Sebagai pendengar, lagunya memang catchy, keren, dan penuh emosi. who knows ?

Galau. Adalah kata yang patas disematkan ke dalam lirik lagu ini. Apakah kondisi para penikmat musik dunia sedang galau hingga lagu galau menjadi pemenang Grammy ? atau mungkin, apakah dunia sedang galau ? Mari kita lihat bersama sama.

Akhir akhir ini, kondisi perekonomian dunia membuat sebagian ekonom (terutama eropa dan US ) galau dengan perkembangan perekonomian asia pasifik yang dimotori china sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi spektakuler. tak jarang indeks saham gabungan di eropa dan US galau mendadak, melemah dengan cepat dan meningkat dengan cepat. Harga minyak dunia juga mudah galau, dipicu perkembangan politik timur tengah yang galau dengan keruntuhan para pemimpinnya pada “arabian fruhlings”.Situasi politik di jazirah arab juga galau akan kecemasan terciptanya perang dunia jilid 3, andai iran di keroyok oleh para negara galau di dunia. 

Eskalasi perpolitikan juga menuju titik puncak kegalauan. Berbagai demonstrasi manusia yang menuntut kebebasan berekspresi membuat galau para pemuka agama dunia. Demokrasi menjadi sebuah keniscayaan dalam sistem pemerintahan dan seolah menjadi yuridiksi hukum dalam menghadapi berbagai masalah kenegaran. Perlombaan unjuk kekuatan militer menunjukkan kegalauan para pemimpin negara entah itu di timur tengah, pasifik, afrika timur, Spratly dan lain lain. Korea Utara, Iran, Pakistan, India, China bahkan Georgia pun bisa membuat dunia makin panas. Batas antar kehidupan manusia juga makin tipis, sulit membedakan mana urusan pribadi dan urusan bersama. Perkembangan jejaring sosial memudahkan  penyebaran kegalauan dengan munculnya individu sebagai kekuatan yang lebih kuat dari pers. lagi lagi galau.


Masa depan dunia makin galau menurut sebagian besar manusia. Kodak, Nokia, GoldmanSachs, Blackberry adalah sebagian contoh korban kegalauan perkembangan teknologi dunia. Kodak dengan cepat digeser oleh NIkon dan pemain baru Canon, Nokia yang begitu digdaya di tahun 2000 an dengan cepat disalip oleh Apple, Samsung, HTC bahkan Huawei. Segala macam yang tidak bisa menyesuaikan diri akan tergilas dengan cepat dan tertinggal jauh, sulit untuk mengejar lagi. Dunia terlalu kejam untuk yang terlambat menyesuaikan dengan cepatnya perubahan zaman. Pun lihatlah ambruknya perekonomian Amerika Serikat dan Uni Eropa yang beberapa dekade lalu menjadi sokoguru perekonomian global mendadak melempem menghadapi kekuatan baru macam Brazil, China, Rusia, India, Vietnam, Thailand dan Indonesia. Tas tas mewah bermerek nama nama asli Prancis atau Italia kini dengan mudah ditemukan di kedai kedai kopi pelosok gang gang jalanan Shanghai dan Singapura. The World grow too fast. Asians rules change the world. Di jalanan Shenzen atau Hyderabad dapat anda jumpai lelaki dengan gadget Samsung terbaru dengan mobil Rolls Royce terbaru.  Ah, dunia terlalu cepat berganti.

Agama menjadi semakin terpinggirkan, makin hari makin sedikit sekali anak muda yang mengisi barisan di Masjid, gereja atau kelenteng kelenteng  dan vihara. Kebebasan dianggap hal mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Makin banyak orasi yang 
dianggap hal mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Makin banyak orasi yang menyuarakan kebebasan di pelosok pelosok Jazirah Arab. Kebebasan seolah menjadi agama baru yang dianut generasi terkini. Lihatlah tak hanya Mubarak yang tumbang di dikeroyok facebook dan twitter, para amir di Bahrain, Saudi Arabia dan lain lain pun makin menguatkan pembungkaman atas nama agama dan anti kebebasan. Gereja makin kosong, fatwa ulama makin ditenang dan dilecehkan, pendeta hanya ditemui saat ingin menikah dan meresmikan agama. Praktis, semuanya hanya menjadi seremoni yang tak memiliki arti mendalam. Kitab dikutip hanya untuk mencari pembenaran ats tindakan tanpa mengerti esensi yang paling dalam. 


Perubahan cuaca makin tak menentu. Petani tak lagi memiliki jadwal pasti kapan harus menanam dan kapan harus memanen. Dunia berkembang semakin cepat. Gedung gedung baru tumbuh bak cendawan di musim hujan. Kapal kapal pesiar mewah berseliweran tak hanya di negara negara kaya, bahkan kini memasuki pinggiran teluk Aden atau tepian pantai Guinea. Dunia tak hanya butuh daging, kulit binatang atau biji bijian untuk diramu dan dimakan. Dunia kini butuh gemerlap baju yang keluar tiap pergantian musim. Mobil mobil canggih, perjalanan ruang angkasa, bahkan perawat ujung kuku pun sangat diperlukan.


Partai makin tak dipercaya dan dijauhi. Tokoh tokoh papan atas mulai diacuhkan dan tak ada yang peduli. Mungkin tulisan ini pun tak ada yang ingin tahu dan baca, karean kurang berbobot dan tak “berisi”. Hah, entah harus bagaimana bersikap. Yang pasti, saya sedang tidak galau dan tidak ingin dianggap galau. 

Anak anak muda pun mengagungkan Super Junior dan menangisi ratu monster mereka yang gagal konser. Berkicau tentang tari tor tor, tapi bahkan mungkin tak tahu apa itu tari tor tor. Ah, marilah menertawakan kita. Wajah kita terlalu terbebani keadaan yang kita buat sendiri. Salam !




  

Monday, September 3, 2012

Tafakur :September

Tafakur katamu. Sudah berlalu bersama terbangnya kolibri kembali ke hutan maple nan semi. Sekarang saatnya kita menjejak masa depan yang penuh misteri. Sudah selesai ? belum. Mari kita bicarakan belenggu belenggu yang mengikat kaki kita hingga tak bisa dipisah dengan mudah. Putuskan, atau kita akan tertinggal kapal terakhir menuju dermaga impian.

Tafakur katamu. Masih kuingat dan akan selalu kuingat hingga senja, hingga cerita ini berakhir tanpa kesan begitu saja. Aku masih berdoa tiap september akan menjadi bulan paling indah dalam setahun. Apakah doa kita masih sama ? Apakah kau masih menengadahkan tanganmu dengan tinggi yang sama ?

Tafakur katamu. Kita punya kisah yang sama, tapi dengan pemeran yang berbeda. Punyaku tak berhenti di setiap stasiun kereta api lalu menangis tersedu. Punyamu tak suka memetik cattleya atau menebar biji teratai di halaman rumah.

Tafakur katamu. Aku sudah menghitung detik menjadi tahun dan  menjumlahkannya menjadi penanggalan kisah, ada namaku di dalamnya. Teratai sudah gugur dan hanyut terbawa arus sungai. Entah kapan akan tumbuh dan mekar lagi.

Tafakur katamu. Apakah masih ada yang tersisa hingga tak bisa dihabiskan lalu terlupakan ?. Mata mata sipit senja dan tangan tangan kekar tak henti hentinya mengejar dan mengarahkan kita ke tempat yang sama. Aku sudah berlari, tapi nafasku sudah habis dan tak bisa bergerak kemana mana lagi.

Tafakur katamu. Jejak kakiku masih nampak. Cat tembok rumah masih sama dengan warna kesukaan kita. Aku masih ingin menyelesaikannya. Kuwarnai dengan warna kesukaanmu, atau kusudahi dnegan warna kesukaanku. Pelangi akan segera muncul. Sudah saatnya aku bergegas dan menunggu hujan turun seperti dahulu, lagi.

Tafakur katamu. Akan aku selesaikan, sesuai permintaanmu.


Giessen, den 3. September 2012



Thursday, August 23, 2012

ohmygoodness. CreateYourCreativeHabitat







Imagination is better than Technology. Ungkapan Albert Einstein yang diucapkan dahulu sekali menggambarkan bahwa kreativitas lebih baik dari segala macam produk kreatif itu sendiri. Buku karangan Yoris Sebastian ini mengubas topik tentang kreativitas dengan cara yang kreatif. Kita terlahir pun dengan kemampuan kreatif menghadapi tantangan.  Bagaimana saat kita belajar naik sepeda, berlari, berjalan, bahkan meminta uang jajan kepada orangtua pun dengan cara yang ... kreatif.!!

Bagaimana memanfaatkan skill kreatif yang Tuhan berikan kepada kita pun juga dibahas berikut dengan how to sell our creativity. Kreativitas yang dibahas disini bukan kreativitas remaja yang mencorat coret tembok untuk menuliskan nama geng atau gadis idamannya, atau kreativitas calon gubernur berkampanye memanfaatkan korban kebakaran di wilayahnya (ehh, salah fokus), kreatifitas yang dibahas disini adalah kreatifits yang menjual, yang memiliki nilai jual dan bisa ditunjukkan kepada yang lain dan berguna tentunya. :D


How to be a creative Junkies ? Based on Knowledge. Pengetahuan yang tinggi tentu akan meningkatkan Kreativitas-mu dan tentu dibarengi dengan usaha untuk melatihnya. Nge game, baca buku, bikin acara, nonton film, denger musik, adalah contoh meningkatkan Knowledge.

Gara gara buku ini pula, saya langsung kepengen nonton Red Cliff, ingin tahu apakah ada tokoh Zhuge  Liang benar benar mendapatkan 100.000 anak panah dalam waktu sehari. ( Dan rupanya benar :D ). Bagaimana caranya Zhuge Liang mendapatkan 100.000 anak panah dalam waktu sehari ? Based on Knowledge and pengalaman kreatif tentunya. :D (lebih jelasnya saksikan sendiri atau tunggu stasiun tv indonesia memutar film ini :D )

Kreatifitas mengubah segalanya. Kita memang bisa membuat burger yang lebih murah dan lebih enak daripada burger McDonalds, tapi untuk mengalahkan penjualan McDonalds, kita butuh kreativitas melebihi kreativitas Ray Kroc tentunya. Untuk mengalahkan Jokowi tentu tidak hanya butuh dukungan banyak partai ( karena dukungan banyak partai itu ngga kreatif). Kita butuh kreatifitas melebihi kreatifitas menjual baju kotak kotak dan memasarkan Esemka. Kampanye agama juga ngga kreatif, karena dari dulu kampanye ini selalu ada, dan kebanyakan gagal. Apa kali ini akan gagal juga ? mari kita tunggu kegagalannya. (#salahfokuslagi )

Penaklukan Konstantinopel juga dilakukan dengan cara kreatif. Menyeret kapal perang ke darat menggunakan kayu yang dilumuri minyak sejauh 5 kilometer lalu dilayarkan kembali adalah contoh kreatifitas Al Fatih. Penggunaan meriam dalam penaklukan ini juga hasil dari kreativitas. Hasilnya, penaklukan yang dinanti nati pun tiba dan berhasil dengan sempurna. Bagaimana caranya ? based on Knowledge. :)) How creative that can be !!

Bagaimana Aqua menjadi market leader air minum kemasan ? Creative. Aqua mengubah kemasan air mineral dengan botol plastik seperti sekarang dan diikuti oleh banyak produsen air kemasan di dunia. Aqua lah kreator penggunaan botol plastik bening dan penelitian sumber air selama minimal 1 tahun untuk menjamin para konsumennya. Hasilnya ? penjualan senilai 1,7 triliun per tahun. Dahsyat !!


Masih banyak lagi contoh contoh kreatifitas yang menjual untuk disebutkan. Bagaimana produsen Mobil Jepang bisa menguasai dunia, itupun dengan cara yang kreatif.  Produsen Mobil Jepang mendesain mobil yang lebih aerodinamis, lincah dan lebih murah. Sementara pabrikan Amerika dan Eropa malah meremehkan dan mempertahankan desain mereka yang besar dan kaku serta lebih mahal. Hasilnya : Muncullah Toyota, Honda, Mitsubishi, Mazda yang menjadi pabrikan disegani di dunia.

Bagaimana caranya seperti mereka ? mulailah dengan yang kecil. Every big step starts with an inch. Perjalanan panjang ratusan mil itu dimulai dengan satu langkah kaki. :).  Misalkan : bagaimana cara menikah dengan segera. Eh salah, caranya ? beli buku ini dengan uang hasil anda bekerja sendiri tanpa pemberian orang tua, contohnya. Perlu cara yang kreatif bukan ? :))))))




Thursday, June 21, 2012

1st opinion : J(okowi)akarta



Adalah Joko Widodo. Sosok yang tiba tiba seringkali menjadi penghias isi suratkabar nasional. Pengusaha kelas kakap sekelas Chairul Tanjung, sekelas Aburizal Bakrie ? bukan. Ilmuwan Sekaliber Dr. Nurul Taufiqu Rochman, fisikawan cerdas sekelas Prof. Yohannes Surya ? bukan. Artis Indonesia sekelas Nicholas Saputra atau Dian Sastro Wardoyo ? bukan. Politikus penuh lika liku pengalaman sekelas Akbar Tanjung ? juga bukan. Adalah Joko Widodo, walikota kota Menengan sekelas Surakarta, jawabannya. 
Video berikut akan sedikit menggambarkan mengapa seringkali masuk menjadi penghias suratkabar.




Semenjak Jokowi, (nama panggilan akrabnya) menjabat menjadi walikota Surakarta, banyak sekali gebrakan gebrakan baru yang dibuatnya. Bagaimana caranya mengatasi PKL, mengatasi masalah kesehatan, pendidikan, memperkenalkan Mobil Esemka, mengatur percepatan layanan sipil pemerintahan,  mengurangi perizinan pendirian supermarket dan lain lainnya ,membuatnya lambat laun menjadi pribadi yang namanya dikenal baik di kalangan rakyat, anak muda khususnya. 

Jokowi lah salah satu andalan partai pengusungnya ( PDI-Perjuangan) untuk menjadi Roll Model kepeminpinan daerah. Jokowi bisa menempatkan dirinya bukan menjadi bos masyarakat, tapi menjadi Manager, sekaligus pengayom dan pelindung kepentingan konstituennya. 

Keberhasilan Jokowi memimpin kota Solo, Surakarta  membuat dalam waktu singkat menempatkan Jokowi menjadi pesaing utama dalam pilkada DKI Jakarta sebentar lagi. tidak butuh waktu lama baginya untuk merebut perhatian rakyat jakarta yang mungkin belum pernah bertatap muka langsung dengannya. Kepribadiannya yang ramah mampu mengudang simpati rakyat dan tentu kalangan muda terpelajar. Jokowi di elu elukan oleh banyak orang (termasuk saya) untuk menjadi contoh bagaimana menjadi pengelola daerah yang baik, bagaimana mengubah manajemen birokrasi daerah menjadi terbuka, cepat dan dapat diandalkan sekaligus melibatkan public's participation, hal yang mungkin sekali dirindukan oleh banyak orang. dalam waktu singkat pun, Jokowi sudah memilik beragam alternatif untuk menyelesaikan masalaha dasar Ibukota negara, seperti transportasi, banjir dan ketersediaan ruang terbuka hijau dan ruang publik yang (gratis). 

Singkat kata, semoga Jokowi atau calon yang mungkin lebih baik dari Jokowi menjadi pemimpin DKI Jakarta selanjutnya. 


Selamat Ulang Tahun Jakarta, semoga bisa memilih CEO yang tepat. 
kalo bukan kite kite, siape lagi  ????